July 2008
| |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
| 6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
| 13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
| 20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
| 27 |
28 |
29 |
30 |
31 |
|
7/24/08 09:58 am

Kesan pertama saya setelah membaca buku itu, wow!!! Two Thumbs Up!!! Not for the writer, bur for those who joined into that amazing adventures.
40 days in Europe, sebenarnya sudah sejak lama saya lihat buku ini nangkring di raknya Gramedia. Saya sering bolak-balik numpang baca di Gramedia, hanya beberapa halaman awal tapi pada akhirnya tidak jadi membeli, karena saya pikir nanti toh penerbitnya pasti akan mengirimkan sample buku itu. Feeling saya mengatakan kalau itu buku bagus dan layak dibaca. Memang pekerjaan saya yang banyak berhubungan dengan buku membuat saya banyak menerima kiriman buku dari para penerbit. Sampai suatu hari seorang teman yang juga bekerja di penerbit buku tersebut benar-benar mengirimkan saya buku 40Days in Europe. Dan saya masih juga belum membacanya. Sampai saat libur Idul Fitri, saya punya cukup waktu luang untuk menuntaskan membacanya.
Kenapa judul buku ini terkesan kebarat-baratan? Tidak nasionalis kah? Menurut saya alasannya hanya komersialitas semata. Penerbit butuh judul yang cukup provokatif, tanpa kehilangan benang merah dengan isinya. Pernahkah anda membaca buku Summer in Seoul (Ilana Tan), Travelers Tale (Aditya Mulya, dll), Ms. B (Vira Basuki), atau The Naked Traveler (Trinity), kemudian mempertanyakan judulnya? Atau pernahkah anda bertanya kenapa kumpulan tulisannya Akmal NAsery BAsral diberi judul “Ada Seseorang di Kepalaku”, atau kenapa Pramoedya Ananta Toer memberi judul Bumi Manusia? Sebuah judul yang cukup ganjil menurut saya. Atau kenapa Remy Silado memberi judul “Kerudung Merah Kirmizi”, atau “Parijs Van Jaza” untuk novelnya? Silakan direnungkan, tapi jawabannya kembali pada alasan tadi yaitu komersialitas dan kesesuaian isi.
Bagaimana dengan endorsement-nya? Endorsement adalah sebuah opini subjektif dari mereka, para pembaca awal yang memang sengaja diminta sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Endorsemen dimaksudkan untuk memberikan gambaran pada calon pembaca tentang nilai sebuah buku. Tapi sekali lagi, saat anda akan membeli buku, cobalah untuk tidak hanya terpaku pada endorsement saja, tapi coba buka-buka dan intip sejenak halaman demi halaman. Buku yang bagus menurut saya, bisa menarik anda bahkan dari halaman pertama yang anda baca. Dan itulah yang terjadi pada saya saat membuka buku 40 days in Europe, meskipun saya akhirnya menahan diri untuk tidak membeli karena saya tahu pasti kalau saya akan mendapatkannya dengan gratis, langsung dari penerbitnya.
Buku ini bercerita tentang segerombolan anak muda yang nekad untuk tetap berangkat ke Eropa, untuk sebuah misi kebudayaan meskipun kondisi keuangan mereka defisit. Apakah mereka gila? Jawabannya sangat mungkin ya, tapi menurut saya alasan dibalik semua kegilaan itu adalah tanggung jawab atas sebuah komitmen yang telah mereka buat. Hanya keyakinan dan keteguhan niat yang mereka punya saat berangkat. Entah apa yang akan terjadi, maka terjadilah, kun fayakun!!!
Saat berangkat, mereka harus direpotkan dengan masalah finansial. Sponsor yang tiba-tiba menarik diri sehingga kondisi keuangan semakin mengkhawatirkan. Belum lagi konflik internal diantara tim. Ketua rombongan yang seharusnya berangkat pun pada akhirnya tidak jadi berangkat, entah dengan alasan apa. Sampai di Eropa pun mereka masih terus dililit masalah, meskipun jadwal perjalanan sudah dibuat sedetail mungkin dan sehemat mungkin. Tagihan demi tagihan terus berdatangan.
Tapi Tuhan Maha Adil, Tuhan terlalu baik untuk terus-terusan membiarkan umatNya dalam kesulitan. Saya selalu percaya pada sebuah quotation indah yang saya temukan dalam salah satu buku Paulo Coelho, When God closes a door, He opens a window, dan itulah yang terjadi pada mereka. Dalam setiap penampilannya mereka selalu mendapatkan sambutan hangat, bahkan tidak jarang standing applause. Sejumlah penghargaan juga berhasil diraih. Bukan itu saja, menilik dari prestasi dan penampilan mereka, bahkan panitia festival bersedia memberikan keringanan biaya yang bisa mereka lunasi setibanya kembali di Indonesia. Yang terpenting adalah mereka punya cukup biaya untuk pulang. Peran KBRI juga tidak bisa diabaikan. Mereka hadir dengan uluran tangannya, berusaha membantu semampu yang mereka bisa. Mulai dari tumpangan tidur, makan, sampai bantuan dana ala kadarnya.
Kalau kemudian, mereka seperti diselamatkan tsunami hingga semua hutang bisa lunas, itulah yang namanya nasib. Sekali lagi, Tuhan terlalu baik untuk membiatkan hambaNya dalam kesusahan, dan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Tsunami bisa jadi meluluhlantakkan bumi serambi mekah, tapi tsunami juga yang kemudian menyelamatkan mereka dari lilitan hutang.
Bagaimana dengan peran Maulana sebagai penulis? Yup, perannya cukup besar. Dialah contact person untuk semua panitia kompetisi dan festival. Dia juga contact person untuk sejumlah KBRI. Karena ia kebetulan tinggal di Jerman, dia aktif dalam kegiatan kesenian dengan mahasiswa Indonesia, dan dia juga aktif dalam perkumpulan mahasiswa Indonesia Jerman. Sehingga menempatkan Maulana sebagai contact person sangat menguntungkan. Mengingat aktivitasnya selama di Jerman, menyebabkan ia banyak berhubungan dengan pihak KBRI dan ia juga lebih mengenal medan, lebih mengenal budaya masyarakat Eropa. Terlepas dari apakah Maulana dulu (sewaktu SMA) adalah anggota KPA (kelompok Angklung di SMA 3) atau bukan, itu tidak lagi penting menurut saya.
Untuk masalah lobi, di awal Maulana memang memegang peranan penting. Tapi sekali lagi, ini adalah kerja tim. Saat di Jakarta, dalam tim ada orang-orang hebat yang mampu melobi untuk masalah sponsorship, ataupun sekedar pengurusan visa dan paspor. Saat di Eropa, kenyataannya bukan hanya Maulana yang melobi. Toh, kenyataannya ada orang-orang dalam tim yang juga berperan dalam melobi KBRI ataupun panitia festival. Kerja tim yang luar biasa menurut saya.
Selesai membaca buku itu, saya langsung menghubungi Maulana, penulisnya, melalui imel yang tertera di buku. Kami kemudian berteman dan berkomunikasi hanya melalui imel. Melalui Maulana, saya kemudian berkenalan dengan beberapa orang personil yang ikut berangkat ke Eropa. Kali ini saya berkomunikasi secara langsung, dengan telepon. Melalui mereka, saya tahu banyak detail cerita yang tidak diceritakan di buku, termasuk konflik internalnya. Menurut saya, adalah sebuah keputusan yang bijak untuk tidak menampilkan seluruh konflik internal dalam cerita buku itu. Bukan bermaksud untuk mengurangi cerita, tetapi lebih pada apakah layak atau apakah etis mengemukakan konflik internal tersebut? Membuka aib seseorang? Itu bukanlah sesuatu yang penting untuk diceritakan. Toh pembaca sudah menangkap pesan dari tulisan itu. Semangat anak-anak itu untuk tetap berangkat, membawa nama Indonesia, keyakinan untuk sebuah tujuan. Mereka pulang bukan hanya membawa penghargaan, tapi saya yakin kalau mereka belajar banyak tentang kehidupan. Bahkan saya yang membacanya, dan hanya melihatnya dari luar, melalui sebuah buku juga belajar tentang arti persahabatan, semangat dan kerja keras, serta bagaimana sebuah keyakinan akan berbuah indah saat dijalani dengan sungguh-sungguh.
Lalu apakah 40days termasuk buku yang sangat tebal untuk jenisnya? Menurut saya, ketebalan sebuah buku adalah relative. Cara penulisnya menceritakannya sangat menarik, karena dituliskan dengan sangat biasa. Dilengkapi dengan begitu banyak catatan dari percakapan melalui chating, imel ataupun sms. Menurut sebagian orang, catatan chating, imel ataupun sms itu tidak penting. Tapi menurut saya, catatan-catatan chating, imel ataupun sms itu justru berbicara lebih banyak dibandingkan rangkaian kata yang disusun penulisnya. Catatan itu adalah saksi perjalanan mereka.
Kemudian, apakah Maulana menjadi pahlawan dalam perjalanan itu? Padahal dulu dia bukan siapa-siapa. Mungkin sebelumnya dia hanya ketua OSIS dijamannya yang bahkan tidak terlibat aktif dalam kegiatan KPA3, yang notabene adalah kelompok angklung yang super terkenal itu. Lalu kemudian kenapa sekarang ia yang menjadi pahlawan dalam perjalan itu? Kenyataannya memang seperti itu, suka atau tidak suka. Menganggapnya sebagai pahlawan mungkin menjadi sedikit hiperbol, karena ini adalah kerja tim, Tapi peran Maulana juga tidak bisa diabaikan, he’s doing something for that journey.
Maulana sendiri memiliki kelompok angklung bersama teman-temannya di Eropa. Mereka sesekali manggung, bukan hanya untuk pentas angklung tapi juga untuk rampak kendang, wayang kontemporer, dan banyak lagi. Sederet kegiatan kesenian yang menurut saya juga patut mendapat acungan jempol.
Saat mengangkat cerita perjalanan 40 days in Europe dalam talkshow Kick Andy, sejumlah konflik internal yang pernah ada kembali mencuat. Sesuatu yang menurut saya tidak perlu ada. Bagaimanapun juga, semua kembali pada manusianya.
Kalau kemudian ada sebagian orang yang keberatan kenapa sekarang terkesan Maulana yang terus-menerus tampil dan bicara tentang angklung, menurut saya sah-sah saja. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengelak kalau kita pada akhirnya baru mengetahui tentang perjuangan mereka membawa nama Indonesia dari buku 40 days in Europe. Untuk itu terimakasih kepada Maulana yang telah menuliskannya. Meskipun sebagai sebuah novel debut, tentunya masih banyak kekurangan dalam tulisan tersebut. Bentuknya yang seperti catatan harian memang memudahkan pembaca dalam menikmati apa yang disajikan dengan sangat biasa. Tapi dalam beberapa bagian menjadi sangat bertele-tele, karena diceritakan dengan sangat detail.
Meskipun demikian 40 days in Europe, menurut saya hadir semata bukan untuk popularitas penulisnya. Tapi lebih pada menghadirkan kembali semangat mereka, yang pernah dengan kegilaannya nekad berangkat ke Eropa, melakukan sebuah mission impossible. Cerita mereka terlalu sayang untuk tidak dibagikan kepada banyak orang. Agar mereka yang membacanya bisa kembali bercermin, apa yang sudah saya lakukan untuk negeri ini?
Mereka yang berangkat adalah orang gila. Tapi mereka tidak akan pernah tahu bahwa mereka bisa kalau mereka tidak pernah mencobanya. Hidup adalah pilihan, dan mereka memilih untuk maju, mencoba sesuatu yang sejak awal terlihat mustahil. Sebuah buku yang sangat inspiratif menurut saya. Buku itu juga hadir untuk mengingatkan kepada kita, agar apa yang mereka alami tidak lagi berulang. Agar perjuangan anak-anak muda lainnya untuk angklung, untuk Indonesia, tidak lagi menemui jalan buntu.
Enthusiasm is the force that leads us to the final victory (Paulo Coelho). Percayalah, dalam 40 days in Europe, anda akan benar-benar menemukan implementasi dari quotation Paulo Coelho tersebut.
5/14/08 03:10 pm
Sudah hampir sebulan sampai dengan tulisan ini dibuat, aktivitas akhir pekan gue diisi dengan fitness. Yup… sejak gue akhirnya terjebak menjadi member salah satu fitness center kenamaan di Jakarta.
Biasanya setiap weekend gue akan mati-matian mengumpulkan semua tenaga dan menyingkirkan semua kemalasan, terus berfitness ria di daerah Permata Hijau. Biasanya otak gue yang menang, dengan pertimbangan “gila, sayang banget iuran fitness-nya”, maka badan gue akan mengalah. Sebenarnya tujuan fitness gue juga bukan semata-mata untuk menguruskan badan membentuk otot (meskipun mau juga sih hehehehe). Tapi tujuan utama gue fitness lebih pada menguji konsistensi niat gue untuk berolahraga, kalau nantinya berat badan gue turun mendekati ideal (ciiieeeeehhhh…) maka itu adalah reward utuk keseriusan niat gue berolah raga ria hehehehe.
Tapi minggu kemarin, badan gue yang menang telak mengalahkan otak yang selama ini didewa-dewakan, bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna karena memiliki akal budi. Akhirnya gue bertekad bulat untuk istirahat, dan pertimbangan ekonomis pun lewat.
Kalau biasanya gue mencoba mengekang keinginan guer akan makanan-makanan enak, maka kali ini gue mencoba memanjakan diri dengan makanan enak. Dan kali ini gue kembali melakukan hobi lama, memasak, tarrrrraaaaaammmmm…..
Jadi weekend kali ini aktivitas gue adalah menjadi anak berbakti, nemenin nyokap belanja, terus memasak untuk seisi rumah (sebenarnya agak hiperbol karena sebenarnya cuma satu menu cemilan hehehehe). Acara masak-memasak diawali dengan browsing resep, mulai dari resep keluarga nugraha yang super kesohor, resep dapur bunda sampai dengan resep-resep dari sumber tak dikenal. Akhirnya pilihan jatuh pada resep yang paling sederhana cara penyampaiannya, nggak ribet masaknya, dan bahan-bahan yang mudah dikenali. Hasrat untuk bereksperimen membuat macaroni schotel akhirnya kesampaian juga, dan inilah resepnya:
Macaroni Schotel*
Bahan : 1 bks makaroni (227 gr), rebus, sisihkan 1/2 klg daging kornet 100 gr Jamur merang 2 buah Wortel Daun bawang - seledri , secukupnya 50 gr mentega 50 gr bawang bombay 4 siung bawang putih 50 gr tepung terigu 3 btr telur, kocok sebentar 100 gr parmesan/keju parut 500 cc susu cair 1/2 sdt pala bubuk 1/2 sdt merica bubuk 1 sdt garam Royco (pakai yang sachet aja) tepung panir untuk taburan
Caranya : Tumis bawang bombay sampai layu, masukkan tepung terigu,aduk rata. Tuangi susu, didihkan sambil diaduk hingga licin. Masukkan daging kornet, keju dan makaroni, aduk rata. Bubuhkan garam, pala dan merica, aduk dan angkat dari api. Masukkan telur,campur rata. Tuang ke dalam pinggan tahan panas yg telah diolesi margarin/mentega dan ditaburi tepung panir. Ratakan, taburi dengan tepung panir atau parutan keju diatasnya. Panggang sampai matang. Hidangkan.
Bisa untuk 3 loyang, berapa banyak yang makan tergantung kemampuan makan keluarga anda.
*diadaptasi dari dapur bunda, dan sudah sukses diujicoba di dapur nyokapnya ayu hehehehe
Tips : • Macaroninya dimasukkan dulu ke air mendidih, diamkan 5 menit, tiriskan. • Boleh ditambahin juga sayuran sesuai selera, supaya lebih sehat. • Biar lebih lezat, bisa ditambahin dengan susu full cream yang sudah dicairkan. • Biar semakin enak, tuang sebagian adonan dalam loyang, tutupi dengan keju chedar, lalu masukkan lagi sisa adonan. • Macaroni schotel ini tidak hanya lezat dipanggang tapi juga enak dikukus. Mau adaptasi lagi? Coba macaroni schotel goreng. Begini caranya, setelah dikukus diamkan dulu sampai dingin. Lalu potong-potong sesuai selera, gulingkan di telur yang sudah dikocok lepas, lalu gulingkan lagi di tepung panir, goreng sampai kecoklatan. Rasanya nggak kalah ueeeeenak koq.
HASILNYA ???!!!
Apresiasi akan kelezzatan macaroni schotel ala-Ayu gue dapatkan dari adik, sepupu-sepupu gue, nyokap gue, sampai tetangga. Gue sangat puas karena akhirnya berhasil membuat macaroni schotel yang sudah sejak lama gue idam-idamkan. Dan tanpa gagal, sekali coba sukses horrrrreeeee……… karena sebelumnya gue harus beberapa kali eksperimen sampai akhirnya sukses membuat caramel cake. Dan adik gue yang penikmat sejati masakan-masakan gue itu sudah memesan macaroni schotel buatan gue untuk acara perpisahan sekolahnya bulan depan hehehehe….



5/2/08 10:58 am
Saya bukan pencinta kopi, tapi saya sangat suka bau kopi. Jadi kalau lewat di depan kedai kopi, missal Starbucks atau Coffe Bean maka saya akan dengan sangat sengaja memperlambat jalan supaya bisa berlama-lama menikmati aroma kopi yang menggoda itu. Sesekali saya mampir ke Starbucks atau Coffee Bean, tapi sekali lagi karena saya bukan penikmat minumat sarat caffeine itu, maka saya cukup dengan segelas caramel macchiato, duduk di pojokan, baca buku, atau sekedar memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Kadang kalau sedang ingin sendirian, saya pergi sendiri ke Starbucks, duduk sendiri di pojokan, memesan segelas minuman (pastinya bukan kopi), Cuma duduk diam sambil memperhatikan kesibukan orang-orang cukup nikmat bagi saya dan bisa mengurangi sedikir kepenatan. Dan tempat favorit saya adalah Starbucks Puri Indah Mall. Lokasinya terpisah dari mall, jadi tidak terlalu berisik, dan sangat enak untuk memperhatikan orang-orang yang keluar masuk mall dengan tentengan belanjaan, atau bolak-balik carefour-mall.
Suatu hari, bersama seorang teman yang pecinta kopi, kami mencoba sebuah café kopi di daerah Sarinah, Thamrin, tepat di sebelah Mc.Donald. Alasan awalnya sebenarnya sederhana saja, saya yang sedang kelelahan mengeluh, ingin melihat keramaian tapi seakan saya tidak ada di keramaian tersebut. Dan satu lagi, saya ingin mencium bau kopi. Mungkin unsur caffeine dalam kopi, cukup untuk membuat saya rileks sekalipun hanya mencium aromanya.
Maka teman yang pecinta kopi itupun langsung mengeluarkan sejumlah pilihan tempat. Pilihannya adalah mau yang kopinya enak dan pemandangannya bagus, atau pemandangannya saja yang bagus, atau mau yang ada makanan beratnya, atau cukup dengan makanan ringan saja. Dan sepanjang jalan teman itu sibuk menganalisis tempat apa yang cocok, dan mengeluarkan semua pengetahuannya tentang tempat makanan apa saja yang ada di daerah Thamrin. Akhirnya kami putuskan untuk memilih café di sebelah Mc Donald Thamrin, dari menunya mereka menyediakan kopi dengan gaya Eropa, entah apa bedanya. Alasan pemilihan tempat itu juga sederhana saja, hanya ingin mencoba tempat baru, meskipun sebelumnya pernah mendengar referensi kurang baik tentang café itu.
Tempatnya kecil, cukup sepi, harganya cukup terjangkau, relative lebih murah kalau dibandingkan dengan Starbucks dan Coffe Bean. Awalnya sempat terjadi kesalahan pemesanan, pesanan yang seharusnya fish and chips tapi yang diantar adalah sausage and chips. Dengan semangat ’45 saya pun langsung protes, sambil berharap kalau saja ada permintaan maaf dari pihak café, segelas cappuccino gratis atau sepiring French fries misalnya. Beruntung pesanan minuman kami tidak salah. Rasanya jangan ditanya, karena saya bukan pecinta kopi, dan di mulut saya cuma ada dua pilihan rasa, yaitu enak dan enak sekali, maka minuman itu masuk dalam kategori enak. Sedangkan makanannya mmmmmmhhhh…. Chicken cordon blue nya lumayan, tapi fish and chips nya termasuk yang kurang. Beruntung pesanan jilid dua tidak salah, sebagai penutup, teman yang baik hati itu memesankan saya minuman entah apa namanya, yang isinya adalah buah yang diblended dengan soda dan es batu, dan rasanya cukup enak.
Sedangkan interior café-nya sebenarnya cukup lumayan, hanya furniture nya aja yang kurang. Kursi-kursi dan meja kayunya membuat kesan kaku dan tidak santai. Hanya ada beberapa sofa dan itupun tidak ergonomic dengan meja nya.
Sambil makan, minum, ngupi-ngupi, pemandangannya adalah areal Jl. Thamrin, areal parkir tepat di depan Sarinah juga masih bisa dilihat. Apapun yang dilihat, rasanya menyenangkan untuk di komentari, karena melakukan observasi itu pekerjaan yang paling menyenangkan. Mulai dari kelompok-kelompok ABG yang mulai bergegas untuk ke MU café, pakaiannya juga hampir-hampir seragam, setidaknya sama model hanya beda warna dan motif. Teman yang pecinta kopi itu bahkan beranggapan kalau baju perempuan yang sedang trend sekarang adalah celana panjang yang dilapisi rok, dan katanya trend ini diawali dari duo Maia, sampai dengan tulisan ini dibuat saya masih belum mengerti alasan teman yang pecinta kopi itu tentang kesimpulan trend baju perempuan yang dibuatnya.
Semakin malam, sekalipun suasana Jl. Thamrin semakin lengang, tapi areal parkir Sarinah justru semakin ramai. Apalagi ada sekelompok ABG yang tampak dengan cueknya berfoto di tempat parkir itu, entah apa pemandangannya. Café yang awalnya sepi, semakin lama mulai ramai, lalu sepi lagi, lalu ramai lagi. Dan kami masih asik ngobrol di café itu sambil terus mengomentari orang-orang yang seliweran di jalan..
Teman yang pencinta kopi itu bisa membuat saya yang bawel dan tidak pernah bisa berhenti bercerita, duduk diam, menjadi pendengar yang baik, mengalah untuk mendengarkan ceritanya. Waktu teman itu bercerita, saya langsung pasang telinga dengan siap siaga kalau ada sedikit jeda maka saya akan langsung memulai giliran saya untuk bercerita. Waktu saya cerita dan tarik nafas untuk jeda, maka teman itu langsung menyambung dengan ceritanya, variasi ceritanya pun macam-macam, mulai dari affair dan gossip-gosip di kantor, keluhan kerjaan, curhat teman, celaan dari hasil observasi, rencana bisnis, sampai review beberapa tempat makan yang bisa dijajaki untuk wisata kuliner. Dan saya kira, siapapun yang mendengar kami bercerita pasti akan tertawa karena mengira kami sedang balapan cerita hahahaha….
Tapi semua obrolan kami mengalir dan menyenangkan, sampai akhirnya sudah terlalu larut, minuman habis, dan sudah lelah untuk bercerita hingga teman pencinta kopi itu menghabiskan tujuh batang rokok, akhirnya kami pulang. Dan kesimpulan akhir dari kami adalah, café itu sangat tidak direkomendasikan untuk makanan dan minuman, tapi kalau hanya ingin ngupi-ngupi atau sekedar santai sambil memandangi kesibukan pusat kota, masih ok lah.
5/2/08 10:44 am
Kapan terakhir kali ke museum? Mungkin waktu darmawisata SD? Terakhir kali saya berkunjung ke museum baru beberapa hari lalu, atas nama tugas dan pekerjaan, yaitu membuat sebuah acara, diskusi buku di Museum Bank Mandiri. Yang karena acara diskusi buku itu juga, akhirnya saya masuk juga ke museum bank itu, yang selalu dilewati tanpa menoleh manakala berkunjung ke daerah kota ataupun sekedar transit menuju mangga dua hehehe. Maklum, untuk daerah kota museum favorit adalah Fatahillah.
Alih-alih soal museum, suatu hari bersama dua orang sohib waktu kuliah, tiba-tiba kami puny ide cemerlang mengatasnamakan kebosanan pada mal-mal.
Taraaaam…. Tour keliling Jakarta, mengunjungi museum.
Saking seriusnya ide itu, kami sampai siap sedia membawa bekal makanan plus peta Jakarta. Sejumlah rute pun sudah disusun dengan rapih, mulai museum-museum di daerah Kota sampai ke Monas. Dan saudara-saudara…. Karena terlalu serius mempersiapkan perbekalan dan menyusun rute, kami lupa mengecek jadwal museum. Sebagai awam, kami beranggapan sebagai salah satu tempat kunjungan wisata, maka idealnya sebuah museum akan buka tujuh hari seminggu, 30 hari sebulan. Tapi ternyata para pembaca yang budiman, museum-museum itu tutup setiap hari senin. Jadilah perjalanan hari itu berubah total. Kunjungan museum menjadi photo session di sekitar Taman Monas dan berakhir dengan menyantap bekal makan siang di parkiran Plaza Semanggi, lalu berlanjut dengan nonton di bioskop 21 Plaza Semanggi. Niat mulia untuk mempelajari sejarah bangsa lagi-lagi berkakhir di mal.
Kali ini, selesai acara diskusi buku, maka acara berlanjut dengan berkeliling museum, karena kebetulan di museum yang sama sedang ada event tahunan para pencinta buku. Dan rasanya kurang lengkap kalau sudah sampai di daerah Kota tapi tidak berfoto di sepanjang area gedung-gedung tua. Maka bersama beberapa orang teman, saya menyalurkan hasrat untuk narsis, berfoto di sepanjang gedung tua, tepat di samping gedung museum Fatahilah. Properti untuk foto juga macam-macam, mulai dari marka jalan sampai meminjam mobil antik yang sedang parkir. Pokoknya, apapun di sepanjang gedung tua itu terlihat artistik dan potensial menjadi lokasi pemotretan. Sampai di depan museum Fatahilah, ternyata ada lebih banyak manusia yang berkeliaran, mulai dari numpang pacaran gratis, gelandangan, ABG yang asik main skateboard di teras gedung, bule-bule yang ikut-ikutan foto, sampai turis lokal seperti saya yang dengan norak dan hebohnya berfoto disepanjang jalan..
Yang memprihatinkan adalah mereka yang bercengkerama di areal halaman museum dengan seenaknya membuang sampah sisa makanan. Terlalu banyak yang beranggapan bahwa kan nanti ada petugas kebersihan, dan nantinya adalah tanggung jawab petugas kebersihan untuk membersihkan sampah-sampah itu. Tapi apa susahnya sih untuk mengantongi bungkus permen, atau melangkah 5m sampai ke tong sampah untuk membuang botol bekas air mineral. Lucunya adalah waktu kami berfoto di salah satu bekas meriam peninggalan Belanda, di salah satu meriam, ada coretan nama dengan tip-ex, seperti tanda “budi was here”, iiiggghhhh…. Jadi nggak artistik banget kan fotonya.
Satu hal lagi, mungkin hanya sedikit yang tahu kalau ada saluran air bawah tanah yang alirannya kelihatan sedikit di halaman depan Fatahillah, dan ini lebih mirip saluran air pembuangan a.k.a got. Padahal dahulu kala dijaman kompeni saluran air itu adalah penjara air bawah tanah, cara halus menyiksa tahanan sampai mati adalah dengan merendamnya di air tanpa diberi makanan.
Sekarang saatnya bicara serius, museum memang bukan lagi tempat favorit untuk tour apalagi tamasya, yah meskipun sekarang beberapa museum sudah menjadi tempat favorit untuk foto pre wedding. Makanya nggak heran kalau pengunjung museum lebih banyak wisatawan asing daripada wisatawan lokal. Maklum, bule-bule itu memang lebih penasaran dan peduli tentang sejarah dan peradaban suatu bangsa.
Data dari mbah google juga macam-macam, tapi kira-kira ada sekitar tiga puluh museum di Jakarta, ternyata banyak bukan??? Hayoo… berapa yang udah kamu kunjungin? Kebanyakan kondisinya juga sangat memprihatinkan, tidak terawatt, seperti hidup segan mati pun ogah. Maklum, biaya karcis untuk masuk museum juga sangat murah, seingat gw terakhir kali ke museum Cuma butuh Rp. 2000,- saja untuk karcisnya. Lhaaa…. Dengan uang segitu dan jumlah pengunjung yang minimalis bagaimana bisa ada biaya perawatan yang memadai? Kalau dana dari APBD mah jangan pernah diharapkan lah, seperti pungguk merindukan bulan kalau berharap pemerintah mengucurkan dana yang lumayan pantas (kalau tidak bisa dibilang banyak) untuk biaya perawatannya. Meskipun sebenarnya biaya karcis yang murah dimaksudkan untuk bisa menarik pengunjung. Kata seorang ahli, kalau tidak ada kesadaran masyarakat tentang betapa penting dan berharganya mempelajari sejarah serta melestarikan sisa-sisa peninggalan, maka dibutuhkan lebih dari sekedar biaya karcis yang murah untuk bisa menarik pengunjung.
4/10/08 10:41 am
gw nemu ini di blog nya nurul, lucu juga... cukup menghibur dan membuat gw sedikit tersanjung wakakakakakakkkkk
 Movie Reviews
4/9/08 04:36 pm
Suatu hari Nurul memamerkan CD MP3 Indonesia yang baru dibelinya, maka waktu lagu Janji Suci –nya Yovie&Nuno berkumandang, maka seketika itu juga Ayu dan Nurul langsung menjerit histeris dengan sejuta khayalan yang langsung meluncur dalam bentuk komentar.
Janji Suci by Yovie and The Nuno
dengarkanlah wanita pujaanku malam ini akan kusampaikan hasrat suci kepadamu dewiku dengarkanlah kesungguhan ini
aku ingin mempersuntingmu tuk yang pertama dan terakhir
Reff : jangan kau tolak dan buatku hancur ku tak akan mengulang tuk meminta satu keyakinan hatiku ini akulah yang terbaik untukmu
dengarkanlah wanita impianku malam ini akan kusampaikan janji suci satu untuk selamanya dengarkanlah kesungguhan ini
aku ingin mempersuntingmu tuk yang pertama dan terakhir
back to Reff
akulah yang terbaik untukmu.....
sambil terus ikut bernyanyi kami menjadi sepasang wanita gila yang terus membayangkan kelak bila ada seorang pangeran berkuda putih datang menyanyikan lagu ini, sambil menyodorkan sebentuk cincin, persis seperti pangerannya Cinderella.
Lalu masih berlanjut ke lagu berikutnya, pangeran itu masih terus mengumbar janji dengan lagunya.
Pilot - Sepanjang Hidupku
dengan dirimu kini ku bahagia tak henti kau berbagi canda tawa hilangkan gairah lelah hatiku hadirmu mengubah arti hidupku jadikan aku tawanan cintamu ku serahkan seluruhnya untukmu ku penuhi semua yang kau inginkan tiada yang penting selain dirimu
reff: sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu di setiap waktu, di setiap waktu sepanjang hidupku tak ku relakan dirimu tuk tinggalkan aku, tuk tinggalkan aku sejuk kasihmu sampai ke tulangku hingga detak jantungku kan berhenti senyum manismu sinari hatiku tulus setia cintaku hanya untukmu
yup... dua sahabat ini semakin menggila khayalannya. Berharap sang pangeran datang, tapi yang terdengar justru suara air di kamar mandi, tanda tetangga sebelah kamar kembali mengakuisisi kamar mandi untuk waktu satu jam kedepan.
4/9/08 04:33 pm
Rencana masa depan!!! Begitulah kami menyebutnya. Berawal dari acara makan-makan di salah satu sudut sebuah Korean Restaurant di Pondok Indah Mall, Ayu dan Nurul mencoba merumuskan mimpi-mimpinya dan rencana masa depan. Malam sebelumnya, Nurul memperdengarkan sebuah lagu, A very inspirational song for me. Proud Of You (by Fiona Fung)
Love in your eyes Sitting silent by my side Going on Holding hand Walking through the nights Hold me up Hold me tight Lift me up to touch the sky Teaching me to love with heart Helping me open my mind
I can fly I'm proud that I can fly To give the best of mine Till the end of the time Believe me I can fly I'm proud that I can fly To give the best of mine The heaven in the sky
Stars in the sky Wishing once upon a time Give me love Make me smile Till the end of life Hold me up Hold me tight Lift me up to touch the sky Teaching me to love with heart Helping me open my mind
I can fly I'm proud that I can fly To give the best of mine Till the end of the time Believe me I can fly I'm proud that I can fly To give the best of mine The heaven in the sky
Can't you believe that you light up my way No matter how that ease my path I'll never lose my faith See me fly I'm proud to fly up high Show you the best of mine Till the end of the time Believe me I can fly I'm singing in the sky Show you the best of mine The heaven in the sky
Nothing can stop me Spread my wings so wide
Lagu diatas cukup untuk membakar semangat kami, meyakinkan diri bahwa mimpi-mimpi kami bisa menjadi nyata. We’re getting closer into our dream. Yup!! Seperti biasa, kami merasa lebih produktif saat sedang makan. Maka acara makan-makan sore itu pun menghasilkan berbagai rencana demi masa depan kami. Bentuknya sih tampak hampir konkret, kami menuliskan semua konsepnya dalam kertas yang kelak akan menjadi saksi ciiiieeeehhh….
Idenya adalah kami akan membuat sebuah blog yang akan menyediakan berbagai info buku, termasuk sinopsisnya. Tujuannya adalah untuk memudahkan orang-orang yang akan mencari buku, jadi nantinya kami berharap bahwa setiap orang yang akan mencari buku akan membuka blog kami terlebih dulu sebagai bentuk referensi.
Rencananya blog ini nantinya akan menjadi sebuah bentuk usaha juga, mempromo kan berbagai buku serta menjadi agen bagi mereka yang akan menerbitkan buku, penghubung antara penerbit dan calon penulis, dan istilah kerennya adalah literary agent. Menjadi bentuk bisnis adalah sebuah rencana jangka panjang, karena kami melakukannya dengan hati dan lebih pada kesenanagan. Rencana masa depan ini juga bangkit setelah mengingat petikan ucapan Anggun dalam Kick Andy, malam sebelumnya, sederhana tapi membangkitkan.
“… kalau habis mimpi jangan tidur lagi, bangun terus mandi, pakai air dingin juga nggak apa-apa…”
3/26/08 11:56 am
pagi-pagi gw udah teleponan sama sahabat gw jaman kuliah, Nurul. acara rutin curhat karena sahabat gw satu ini sedang mengalami situasi yang 'dilematis' (meminjam istilahnya Elmut yang mengatasnamakan JS badudu). ternyata acara teleponan pagi itu mendapatkan sebuah pencerahan, kami sampai pada kesimpulan bahwa: BEING AN ADULTS IS ABOUT CHOOSING YOUR LIFE.
sahabat gw yang selalu dengan tangan terbuka menyediakan tumpangan setiap kali gw butuh melarikan diri itu memang sedang dalam proses pemilihan, tidak sulit sebenarnya bahkan menyenangkan. kantornya yang NGO terkenal milik mantan orang nomor satu di negeri ini memberikan green pass untuk sekolah di Taiwan, dan pada saat yang sama salah satu aplikasinya untuk sekolah di jepang direspon dengan sangat baik (setelah banyak aplikasi yang kami kirim dan menanti dengan harap-harap cemas), profesornya meminta interview. Kalau mau menerima tawaran Taiwan, hampir bisa dipastikan 90% diterima lah, sedangkan Jepang ini masih panjang prosesnya. kebingungannya hanyalah karena ada ketidakrelaan untuk melepaskan kemungkinan sekolah Jepang, rasanya akan jauh lebih enak dan puas kalau sekolah Jepang itu tidak jadi dilakoni karena memang aplikasinya ditolak atau tidak lolos seleksi, bukan karena kita yang memutuskan menolaknya, kesannya sombong gitu...
setelah ke kantor dalam keadaan stress dan malam sebelumnya membuat gw juga ikut stress karena bingung harus memutuskan pilihan yang mana (seandainya yang harus dipilih adalah dua pria tampan, pasti tidak akan sesulit itu memutuskannya hehehehe). Mulai dari cara ilmiah, bikin scoring board, membandingkan kelebihan dan kekurangan masing-masing, sampai cara paling primitif, hitung kancing, masih belum juga dapat jawaban. pertimbangan tersulit adalah kalau menolak Taiwan maka akan berakibat buruk pada hubungan antara pemerintah taiwan dengan kantornya. sementara itu JEpang juga belum pasti.
Yah, Tuham memang tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya. tiba-tiba her big boss memanggilnya dan sekali lagi menanyakan jawabannya tentang pilihan sekolah itu. tapi diluar dugaan adalah DIA menyarankan untuk meneruskan semua proses aplikasi itu baik Jepang maupun taiwan, sampai sahabat gw itu benar-benar yakin akan pilihan yang akan diambilnya, sampai selesai semuanya, TUNTAS. tentang hubungan baik, tidak perlu dipusingkan karena bentuk kerjasamanya kan banyak, tentang green pass sekolah hanya bagian kecil. fiuuuhhhh.... rasanya seperti setetes embun di padang gersang. gw hanya bisa bernafas dan tersenyum lega mendengar semuanya, thanks GOD.
malamnya, seorang teman juga baru saja cerita, akhirnya dia menemukan jalan baru untuk pekerjaannya. cerita tentang kantor barunya benar-benar membuat gw iri, entah apakah karena masih baru jadi demikian excited atau memang sebaik ceritanya karena teman yang satu itu memang sangat pintar untuk mendeskripsikan segala sesuatunya, dan dia selalu excited saat bercerita sehingga kita tidak akan pernah bosan mendengarkan ceritanya.
sekarang, teman itu tiap kali ke kantor akan selalu bersemangat, dan setelah pulang kantor pun menjadi tidak sabar untuk menantikan hari selanjutnya. that's amazing!!! bayangkan di kantor baru itu, semua orang langsung mengenalnya, bukan dia yang memperkenalkan diri pertama kali, tapi mereka umumnya sudah tahu akan ada orang baru namanya X, bagian dari divisi Y, kerjaannya A-Z. yang lebih hebatnya lagi hari pertama masuk, teman itu sudah dapat imel dengan 150 inbox, ucapan selamat datang dari koleganya di kantor!!! penerimaan di kantor baru itu benar-benar luar biasa, dan rekan-rekannya yang luar biasa kooperatif, feedback pekerjaannya juga diberikan langsung dan transparan, intinya suasana kerja yang sangat menyenangkan. semoga ini tidak hanya terjadi di awal saja, saat masih masa-masa bulan madu hehehe...
untuk dua orang teman itu, gw ikut bahagia. mereka menemukan jawaban untuk pilihannya, yaaahhh... setidaknya, they have something to choose, but me... i have nothing to choose. gw masih harus meyakinkan diri untuk setiap langkah dan rencana yang gw buat saat ini. ada begitu banyak orang yang sangat yakin dengan apa yang akan gw lakukan, sementara gw masih terus memotivasi diri sendiri kalau gw harus bisa, meyakinkan diri kalau ini adalah yang terbaik, is it ironic?
Gw cuma yakin satu hal, apapun dan bagaimanapun nanti, gw percaya kalau Tuhan telah membuat masterplan yang sangat sempurna untuk setiap hambanya.
3/18/08 06:36 pm
Saya masih ingat dengan jelas betapa terkejutnya saat berita kepergian Anggun saya terima. Kemudian menyusul kabar tentang kondisi Sapta yang memburuk. Di saat-saat kritisnya, salah satu keinginan Sapta adalah bertemu dengan Kangen Band. Beruntung jadwal yang cukup fleksibel membuat para personil band ini memungkinkan untuk datang menjenguk Sapta. Kondisinya saat itu tidak cukup baik, komunikasi hanya lewat mata. Jujur, saat itu firasat saya berkata mungkin inilah keinginan terakhirnya. Saya berharap akan sebuah keajaiban, bahwa kehadiran Kangen Band dapat menjadi penyemangat Sapta dan kondisinya terus membaik. Tapi, saya juga berdoa kalau memang ia harus pergi, maka lapangkanlah jalannya.
Beberapa hari setelah kedatangan Kangen Band, saya menerima telepon kalau kondisi Sapta membaik. Ah… lega sekali rasanya, sepertinya keajaiban yang saya harapkan tinggal selangkah lagi. Tapi kemudian suatu pagi, saya kembali menerima sebuah sms singkat. “ berita duka, Sapta meninggal tadi malam jam 3 pagi”, hanya berselang satu minggu sejak pertemuan terakhir kami dengan Kangen Band. Ternyata itulah permintaan terakhirnya.
saat kau pergi berlinanglah air mataku
Sepertinya sepenggal lagu itu memberikan tanda untuk kepergiannya. Lagu itu dinyanyikan Sapta saat pertemuan pertama kami, hanya selang waktu dua bulan sebelum Sapta benar-benar pergi. Ada perasaan sedih dan kehilangan yang sulit digambarkan. Ternyata sel-sel kanker itu demikian ganas, tak lagi peduli akan harapan dan cita-cita anak-anak itu. Vokalis dan basist Kristy Band, itu sekarang sudah benar-benar pergi. Sebuah band anak-anak SMP di Lampung sana yang namanya pun cuma dikenal oleh teman-teman sekolah mereka.
3/6/08 10:48 pm
Sekali lagi kamis malam dihabiskan di pojokan Current Affairs, menyaksikan aksi Unyil, Pak Raden, Tongki, si Komo dan Susan.
Unyil memang pernah menjadi tontonan paling ditunggu setiap minggu. Jalanan sepi karena anak-anak semua duduk manis di depan TV menonton Unyil. Tidak bosan karena juga tidak ada pilihan lainnya. Setelah tayangan Unyil lewat masanya berganti dengan DOraemon dan Ksatria Baja Hitam, bersamaan dengan munculnya berbagai TV swasta nasional.
Lalu ada si Komo yang sok bijak, Ulil yang cerewet, Dompu si Domba putih, Belu si bebek lucu.
Kemudian hadir Kak Ria Enes dan Susan yang super cerewet. Boneka perempuan yang super cerewet dan super menggemaskan.
Jauh sebelum boneka-boneka itu lahir, bahkan sebelum Unyil ada, lahir sosok boneka Tongki dengan suara perut Pak Gatot Soenjoto.
Rasanya seperti kembali nostalgia ke masa kecil. bahagia rasanya pernah mengenal boneka-boneka itu...
|